NUSAKAMBANGAN, cahayatvrepublik.com — Tembok penjara bukan akhir dari masa depan. Di Lapas Nusakambangan, warga binaan kini belajar menjahit, mengoperasikan mesin konveksi, hingga terlibat dalam proses produksi pakaian. Program ini diarahkan untuk membekali mereka dengan keterampilan kerja yang dapat dimanfaatkan setelah bebas, dengan target pengembangan hingga 500 peserta dan kapasitas produksi yang diproyeksikan mencapai 200 ribu potong pakaian per bulan.
Pelatihan konveksi tersebut membuka kesempatan bagi warga binaan untuk mempelajari keahlian baru sekaligus mengenal dunia kerja secara langsung. Produk yang dihasilkan ditargetkan menyasar pasar seragam sekolah, department store, hingga ekspor.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi sebagian peserta, keterampilan menjahit merupakan pengalaman pertama. Namun, melalui praktik langsung, mereka mulai mengenal mesin produksi, teknik menjahit, pemotongan bahan, hingga pengerjaan bagian-bagian pakaian.
Salah seorang warga binaan mengaku baru sekitar dua bulan mengikuti pelatihan, tetapi sudah mampu mengoperasikan sejumlah mesin, termasuk mesin obras.
“Baru di sini, baru dua bulan belajar,” ungkapnya.
Meski masih dalam tahap belajar, ia mengaku memperoleh pengalaman baru yang diharapkan dapat menjadi bekal untuk menata kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
Ia juga berkesempatan memperoleh penghasilan dari pekerjaan yang dilakukan. Walaupun jumlahnya masih relatif kecil karena belum mencapai target produksi, uang tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari selama menjalani pembinaan.
“Buat tambah makan di sini,” katanya.
Baginya, kesempatan bekerja dan memperoleh penghasilan halal menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masa depan.
“Jalani hidup yang normal saja, dengan kerja dengan ikhlas. Walaupun hasil nggak seberapa, yang penting halal,” ujarnya.
BELAJAR MENJAHIT, MENYIAPKAN HIDUP SETELAH BEBAS
Harapan serupa disampaikan Disaya, warga binaan asal Jawa Tengah yang mengaku baru pertama kali belajar menjahit.
Selama mengikuti pelatihan, ia mulai menguasai keterampilan dasar, termasuk menjahit dan memotong bahan. Dengan sisa masa pidana sekitar satu setengah tahun, ia berharap kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuka usaha sendiri setelah bebas.
“Insya Allah,” jawabnya ketika ditanya mengenai rencana berwirausaha.
Disaya juga mengaku telah menerima hasil dari kegiatan tersebut dan sempat mengirimkannya kepada orang tuanya.
Pengalaman itu menjadi dorongan baginya untuk terus mengembangkan keterampilan. Ia berharap saat kembali ke masyarakat nanti, dirinya memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk mencari penghasilan secara mandiri.
PT SENTOSA GARMINDO BIDIK 500 PESERTA
Direktur Utama PT Sentosa Garmindo, Pratama Ananda, menyampaikan bahwa program konveksi tersebut menargetkan keterlibatan hingga 500 warga binaan.
Saat ini, sebanyak 86 warga binaan telah mengikuti kegiatan yang sedang berjalan.
“Menargetkan warga binaan 500 orang, yang sedang berjalan 86 orang,” ujar Pratama.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada pelatihan, tetapi juga dirancang agar peserta memperoleh pengalaman dalam proses produksi. Dengan demikian, keterampilan yang dipelajari dapat mendekati kebutuhan dunia kerja.
Pratama juga menyampaikan rencana pembekalan satu unit mesin jahit jarum satu bagi warga binaan yang mengikuti program selama tiga tahun.
“Setelah mengikuti program di PT Sentosa Garmindo selama tiga tahun, pulang dibekali satu buah mesin jahit jarum satu,” katanya.
Pembekalan tersebut diharapkan dapat membantu warga binaan merintis usaha mandiri setelah bebas, meskipun pelaksanaan dan ketentuan penerimaannya tetap perlu dipastikan.
SERAGAM SEKOLAH HINGGA EKSPOR, PRODUKSI DITARGETKAN 200 RIBU POTONG
Dari sisi bisnis, program ini membidik pasar yang luas. Produk konveksi ditargetkan dapat memenuhi kebutuhan seragam sekolah, department store, hingga pasar ekspor.
Kapasitas produksi juga diproyeksikan mencapai 200 ribu potong pakaian per bulan. Angka tersebut masih merupakan target yang membutuhkan dukungan tenaga kerja terampil, mesin produksi, bahan baku, pengendalian mutu, dan kepastian pasar.
Jika target tersebut dapat direalisasikan, kegiatan konveksi berpotensi menjadi wadah pembelajaran kerja sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga binaan.
Namun, keberhasilan program tidak cukup hanya diukur dari jumlah peserta maupun kapasitas produksi. Transparansi penghasilan, keselamatan kerja, kualitas pelatihan, dan kepastian manfaat keterampilan setelah bebas juga menjadi bagian penting dari pembinaan yang berkelanjutan.
PEMBINAAN JANGAN BERHENTI DI BALIK JERUJI
Pelatihan konveksi di Nusakambangan membawa harapan bahwa masa pidana dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.
Keterampilan menjahit dapat menjadi modal untuk mencari pekerjaan, sedangkan kemampuan mengelola produksi dapat dikembangkan menjadi peluang usaha mandiri.
Bagi warga binaan, tantangan sesungguhnya bukan hanya menguasai mesin jahit selama berada di dalam lapas, melainkan mampu memanfaatkan keterampilan tersebut ketika kembali ke tengah masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pakaian yang diproduksi, tetapi juga oleh seberapa besar kesempatan yang terbuka bagi warga binaan untuk membangun kehidupan yang produktif, mandiri, dan bermartabat setelah bebas.
CahayaTVRepublik.com — Mengawal Informasi, Menyuarakan Fakta.
















Komentar